Connect with us

Bring Me to Life; Harapan di Tengah Pandemi

Opini

Bring Me to Life; Harapan di Tengah Pandemi

Siapa yang tidak kenal lagu Bring Me to Life yang dibawakan grup musik Evanescence? Sebagian besar orang pasti paham bahwa lagu ini pernah berjaya di awal tahun 2000-an. Sampai sekarang pun rasanya lagu itu masih kerap diputar di Spotify atau You Tube.

Di awal kemunculannya, beberapa orang beranggapan bahwa Bring Me to Life termasuk jenis lagu rohani. Mungkin karena liriknya mencerminkan sebuah harapan yang identik dengan doa-doa. Amy Lee, vokalis sekaligus salah satu penulis lagu tersebut, sempat membantah. Bring Me to Life, menurut Lee, merupakan ungkapan hati atas kegagalan dalam menjalani hubungan dengan seseorang.

Jika dikaitkan dengan situasi saat ini, rasanya Bring Me to Life layak dinobatkan sebagai salah satu lagu pembakar semangat. Bagaimana tidak? Beberapa bulan ke belakang merupakan masa tersulit dalam kehidupan umat manusia. Kita dihantam oleh kekuatan tak kasatmata bernama virus. Kita tidak bisa bekerja dengan leluasa, tidak bisa menuntut ilmu secara langsung di dalam kelas, tidak bisa mengunjungi tempat-tempat yang kita inginkan, semua karena satu hal.

Satu, dua bulan, rasanya masih bisa ditoleransi. Akan tetapi, sampai mana batas kekuatan kita dalam bertahan hidup? Banyak yang menyerah, banyak pula yang gelap mata. Tak jarang tiap hari kita disuguhi berita tidak sedap soal pencurian dan semacamnya. Belum lagi pembaruan jumlah orang yang positif terjangkit virus tersebut—yang makin hari bukannya menurun prosentasenya, tetapi malah bertambah. Dan, sayangnya lagi, media massa yang ada seolah-olah berlomba menampilkan berita yang paling menyedihkan, paling memilukan, paling mengenaskan. Jika ada yang memberitakan hal baik, cepat sekali rasanya tertutup oleh kabar-kabar tak sedap itu.

Sungguh, ini bukan kehidupan yang kita inginkan. Secara naluriah, kita hanya ingin menikmati hal-hal yang baik, yang indah, yang menyenangkan. Dan, apa jadinya jika kebutuhan itu tidak terpenuhi?

Ya, perlahan-lahan kita akan jatuh ke dalam keterpurukan, kehancuran.

Maka, beberapa dari kita yang masih bisa berpikir jernih harus bisa menghentikan semua kegilaan ini. Mulailah menyebarkan hal-hal baik, hal-hal yang membuat orang lain tersenyum, meskipun hanya dalam skala kecil. Biarkan rantai tak kasatmata menyebarkan kebaikan itu ke lingkaran yang lebih besar lagi. Jangan ragukan kekuatan semesta.

Kalau kalian bekerja dalam lingkup seni, buatlah sebuah persembahan sederhana. Durasi singkat, tetapi mampu menyentuh titik terdalam sanubari manusia. Pakailah akun media sosial kalian agar karya tersebut dapat dinikmati khalayak. Ini bukan soal meraup sebanyak mungkin pengikut, tetapi murni karena ingin membuat orang lain tersenyum.

Jika kalian pemilik usaha kuliner, cobalah menggalang sedikit dana dari yang mampu, lalu agendakan untuk berbagi dengan mereka yang kesusahan. Dimulai dari yang sedikit, lama-kelamaan akan meningkat seiring waktu. Membuka dapur umum bisa menjadi alternatif untuk berbagi.

Jika kalian pemilik sebuah media, mulailah untuk memilah dan memilih, kabar apa yang hendak kalian sampaikan kepada khalayak. Bukannya tidak boleh memberitakan kabar buruk, akan tetapi pilihlah diksi yang tidak menimbulkan provokasi. Yakinlah, jika kita semua terbiasa santun, sedikit demi sedikit yang buruk akan menyingkir dengan sendirinya.

Pada akhirnya, harapan akan kehidupan yang lebih baik tidak boleh sirna. Sebab, jika kita berhenti berharap, berhenti berusaha, berhenti bergerak, mungkin tidak akan ada pertolongan yang datang menyambangi.

Stay safe, stay healthy, stay happy.

 

Sekar Mayang

Editor Penerbit Jentera Pustaka

 

 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Opini

To Top