Connect with us

Hari Ibu: Momentum Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan

Opini

Hari Ibu: Momentum Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan

Bulan Desember di Indonesia identik dengan peringatan Hari Ibu. Tentunya ada hal yang sangat mendasar mengapa kita memiliki Hari Ibu. Di luar negeri, Hari Ibu Sedunia jatuh pada minggu kedua bulan Mei, sedangkan di Indonesia sendiri, Hari Ibu kita peringati setiap tanggal 22 Desember, bertepatan dengan hari pertama pembukaan Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928.

Sekilas mengenai Kongres Perempuan pertama. Kongres dilaksanakan untuk menekankan pentingnya perempuan mengemukakan pendapat dan hak-hak mereka baik dalam pendidikan maupun perkawinan. Pertemuan akbar ini dihadiri oleh beberapa organisasi perempuan yang hendak menyuarakan kesetaraan.

Fakta bahwa ibulah yang melahirkan penerus bangsa dan memiliki peran penting dalam sebuah keluarga, menjadikan seorang ibu layak untuk memiliki hari spesial. Selebrasi Hari Ibu sering dibuat dalam bentuk acara-acara keluarga atau seremonial yang bertemakan perempuan. Sayangnya, semua hanya sebatas selebrasi. Sebab, pada kenyataannya, perempuan yang berperan sebagai ibu dalam keluarga justru merupakan kelompok yang rentan terhadap kekerasan.

Kalau dulu peran ibu hanya di lingkup domestik, sekarang tidak lagi. Sekarang banyak ibu yang punya peran ganda. Ada yang memang ingin berkarier, ada juga terpaksa berkarier. Pada kebanyakan keluarga menengah ke bawah, peran ibu seringkali tidak cuma satu. Selain harus mengurus anak, mereka juga diwajibkan membantu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Di masa pandemi ini, kondisi perempuan semakin rentan terhadap kekerasan ekonomi karena penghasilan rumah tangga cenderung berkurang.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, masyarakat dengan pendapatan di bawah 5 juta per bulanlah yang paling terkena dampak pandemi. Hampir 71 persen masyarakat berpenghasilan 1,8 juta rupiah per bulan mengalami penurunan pendapatan. Hal itu juga dialami oleh 47 persen dari total penduduk berpenghasilan 1,8 juta hingga 3 juta rupiah per bulan, serta 37 persen penduduk berpenghasilan 3 juta hingga 4,8 juta rupiah per bulan. Sebaliknya, hanya 30 persen penduduk berpendapatan di atas 5 juta rupiah per bulan yang mengalami penurunan penghasilan.

Belum lagi munculnya berbagai kemungkinan akan kehilangan pekerjaan, ketidakpastian masa depan, dan perubahan kebiasaan yang cukup drastis. Contohnya, pendampingan kegiatan belajar mengajar (KBM) kini sebagian besar beralih ke tangan ibu alih-alih ayah sebab selama pandemi aktivitas tersebut dilakukan secara daring di rumah. Sementara itu, ibu juga harus bekerja, memikirkan pemenuhan gizi anak dan suami, sambil memastikan imunitas keluarga tetap terjaga.

Hal ini erat kaitannya dengan praktik budaya patriarki yang masih mengakar di masyarakat Indonesia, yang otomatis dapat memperburuk situasi perempuan. Secara keseluruhan, peran Ibu yang kompleks ini menambah beban psikologisnya, serta membuat mereka rentan terhadap kekerasan domestik maupun kekerasan ekonomi.

Contoh kongkretnya seperti yang sudah disebutkan di atas. Bahwasanya tugas-tugas domestik dan mengurus anak, semua dibebankan kepada perempuan alih-alih kewajiban bersama sebagai suami-istri. Beban yang sama tidak ditimpakan kepada laki-laki karena perannya hanya sebagai pencari nafkah utama sehingga menimbulkan adanya ketimpangan peran. Jika ibu gagal memenuhi tugas-tugasnya tersebut, ia dicap ibu yang tidak baik.

Ketergantungan perempuan terhadap laki-laki juga mengakibatkan kasus kekerasan terhadap perempuan di ranah domestik semakin meningkat. Terlihat dari jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Periode Januari hingga Mei 2020 saja ada 892 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan. Jumlah ini hampir setara dengan 63 persen dari total pengaduan selama tahun 2019. Lonjakan jumlah kasus ini membuktikan bahwa perempuan yang menikah dan punya anak termasuk dalam kelompok rentan kekerasan domestik. Apalagi, dengan adanya pembatasan sosial selama pandemi yang mengharuskan kita berada di rumah saja, sangat besar kemungkinan mereka lebih sering mengalami kekerasan.

Banyaknya kasus yang terlapor tidak serta-merta diartikan sebagai hal yang positif, bahwa sekarang sudah banyak perempuan yang berani melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya. Sebab, menurut survei yang dilakukan oleh LBH APIK, ditemukan lebih dari 80 persen korban yang memilih untuk tidak melapor. Artinya, kasus kekerasan terhadap perempuan di lingkup keluarga seperti fenomena gunung es. Kita tidak tahu berapa jumlah perempuan di Indonesia yang menjadi korban kekerasan dan bagaimana nasib mereka.

Kongres Perempuan I tahun 1928 menjadi cikal bakal Hari Ibu dengan semangat memperbaiki nasib perempuan saat itu. Alangkah baiknya jika kita juga meneladani semangat yang sama dalam merayakan Hari Ibu. Semangat untuk memberi pemahaman kepada perempuan dan laki-laki tentang konsep kesetaraan, semangat untuk menyampaikan edukasi bagi para perempuan agar dapat meningkatkan kesadaran akan risiko kekerasan dan memberanikan diri melapor jika mereka menjadi korban, juga semangat untuk lebih berempati terhadap tugas-tugas kompleks seorang ibu agar tidak menganggap beban tersebut hanyalah tanggung jawab seorang perempuan, melainkan tanggung jawab bersama sebagai pasangan yang setara dalam rumah tangga.

Ari Listya Novitasari

Statistisi BPS Kota Mataram

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Opini

To Top