Connect with us

Pay Attention, not Get Attention

Opini

Pay Attention, not Get Attention

Beberapa waktu lalu, saya tergerak untuk mengeklik video pilihan algoritma You Tube. Bukan video musik, bukan pula acara memasak. Itu hanya salah satu dari sekian banyak video kuliah umum rilisan akun TED. Yang membuat saya tertarik untuk menontonnya adalah Joseph Gordon Levitt. Ya, sang pembicara adalah aktor 500 Days of Summer. Sedikit underestimate di awal, tetapi dugaan itu sirna satu menit setelah menonton videonya.

Levitt tidak sedang menceritakan kesehariannya sebagai selebritas Hollywood. Ia hanya berbagi pengalaman soal bagaimana ia menekuni pekerjaannya sebagai pemain peran dalam sebuah produksi film. Tidak mudah, tuturnya, untuk meraih kesuksesan, apalagi mempertahankan apa yang sudah ia capai. Ia juga mengungkapkan, tidak sedikit para selebritas yang terpeleset langkahnya sendiri ketika sudah berada di atas. Sebab, apa yang mereka lakukan tidak lebih dari “mencari perhatian” alih-alih “memberi perhatian”.

Lantas, apa bedanya?

Tentu saja berbeda. Jika kita mencari perhatian, kita akan menggunakan berbagai cara, bahkan yang sebenarnya buruk sekali pun. Seorang aktor atau aktris mungkin akan melakukan hal ekstrem hanya untuk mempertahankan popularitas mereka. Mungkin memancing perdebatan dengan aktor lain, atau sesimpel membuat kegaduhan di tempat umum. Mereka berpikir, dengan begitu mereka bisa membuat semua mata tertuju pada mereka. Memang iya, tetapi bukan untuk hal yang baik. Para produser atau sutradara tentu tidak mau memakai para aktor/aktris yang berulah itu dalam produksi film, sebagus apa pun permainan mereka. Publik pun tentunya tidak tinggal diam. Mereka pasti membicarakan ulah aktor/aktris tersebut di media sosial.

Ya, mereka mendapat semua perhatian yang mereka inginkan, tetapi itu tidak bertahan lama. Sebab, yang mereka dapatkan adalah rasa penasaran yang cenderung memudar seiring waktu.

Lain halnya dengan “memberi perhatian”.

Seorang aktor mencurahkan segala perhatiannya untuk bidang yang mereka tekuni. Mereka tidak bertindak di luar jalur. Tenaga, pikiran, dan waktunya tercurah hanya untuk bekerja dengan baik. Mereka memberi perhatian tidak hanya pada naskah yang harus dihafalkan, tetapi juga kepada seluruh kru yang termasuk ke dalam produksi tersebut. Sang aktor tidak peduli — atau setidaknya, belum ingin mencari tahu — hasilnya nanti. Ia hanya ingin fokus mengerjakan kewajibannya. Lalu, apa yang terjadi? Bagaimana hasilnya? Itu semua bergantung pada waktu. Memang tidak instan, tetapi progresnya tampak jelas.

Orang-orang akan mulai menilai, mulai memberi kesimpulan, mulai memberi penghargaan. Semuanya merupakan umpan balik (feedback) yang positif. Maka, perlahan namun pasti, jerih payah sang aktor dalam mencurahkan perhatian, mulai menampakkan hasil. Satu hal lagi, citranya sebagai pemain peran akan selalu baik.

Rumus tersebut juga bisa diaplikasikan di bidang lain, apa pun pekerjaan atau posisi yang kita tempati.

Misalnya kita adalah pegawai menengah di dalam sebuah perusahaan. Alih-alih mencari perhatian atasan dengan pura-pura sibuk mengerjakan ini-itu, mengapa tidak sekalian saja kita kerjakan sungguhan tugas-tugas itu? Bukankah kita dibayar untuk benar-benar bekerja? Memang, beberapa orang beralasan ingin menghemat tenaga dan waktu untuk mencapai hasil yang mereka inginkan. Akan tetapi, jika semua itu gagal, kita harus mengulanginya dari awal. Apakah tidak lebih banyak lagi tenaga dan waktu yang terbuang?

Contoh lain misalnya kita sebagai atasan atau pemilik sebuah perusahaan. Mungkin sempat terpikir di benak kita bahwa orang lain harus tahu keberadaan perusahaan kita, serta nama kita sebagai pemiliknya. Kita sibuk menghadiri acara ini-itu, berusaha memperluas koneksi, hanya agar perusahaan ini dikenal publik. Akan tetapi, kita lupa untuk memberi perhatian pada apa yang ada di dalam: perhatian untuk orang-orang yang bekerja pada kita. Akhirnya, timbul gesekan antara pegawai dan kita sebagai atasan. Alih-alih berkoar-koar ke khalayak ramai, menebar pencitraan tanpa melihat efeknya ke dalam, lebih baik kita curahkan perhatian untuk para pegawai. Perlakukan mereka secara manusiawi, beri mereka penghargaan atas apa yang sudah dikerjakan, maka mereka akan mempersembahkan hasil terbaik untuk perusahaan—untuk kita. Dan, sebagai efek sampingnya, perusahaan kita akan otomatis dikenal publik karena menghasilkan produk yang amat baik.

Meraih perhatian memang mudah, bahkan cenderung bisa dilakukan secara instan. Akan tetapi, mempertahankannya tetap di atas, itulah yang luar biasa sulit. Bisa-bisa, usaha yang harus dikeluarkan akan lebih besar lagi untuk membuat perhatian itu tetap tertuju pada diri kita. Dan, jika gagal, bukannya tidak mungkin kita akan mengalami kekecewaan yang amat besar. Maka, mulai sekarang, berilah perhatian yang penuh terhadap apa pun yang sedang kita kerjakan. Niscaya kita akan memetik hasil yang baik.

Stay safe, stay healthy, stay happy.

Sekar Mayang

Editor Penerbit Jentera Pustaka

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Opini

To Top