Connect with us

Persona: Antara Kondisi Ideal dan Kenyataan

Opini

Persona: Antara Kondisi Ideal dan Kenyataan

Secara naluriah, setiap individu ingin menampilkan versi terbaik dari dirinya. Tujuannya tak lain untuk menarik perhatian sesamanya atau semata-mata tidak ingin kekurangannya terlihat orang lain. Apa yang disajikan untuk khalayak, kebanyakan sudah melalui pemikiran yang mantap. Dalam beberapa kasus, pelaku berbuat tanpa berpikir, terjadi begitu saja, yang penting bisa menutupi sesuatu yang tidak boleh orang lain tahu.

Belakangan kita tahu, bahwa seorang Paris Hilton di depan kamera sungguh jauh berbeda dengan Paris di kehidupannya sehari-hari. Di balik penampilannya yang glamor, cantik, dan seksi, ia adalah sosok pekerja keras dan seorang yang perfeksionis. Ia mengatur bisnisnya dengan perhitungan matang, meskipun tidak dimungkiri, ia dibantu oleh beberapa orang penasihat. Tampilan dengan riasan sempurna dan baju supermahal tidak terjadi hanya dalam sekejap mata. Untuk jadwal kemunculan pukul delapan pagi, ia harus sudah di depan meja rias sejak mentari belum terbit. Terkadang, hari ini tampil di Amerika, dua hari berikutnya harus tampil di Eropa. Padahal, Paris memiliki insomnia cukup parah. Ia kadang baru bisa memejamkan mata pukul dua pagi. Bukan tidur malam yang nyenyak karena ia kerap terjaga di tengah-tengah lelapnya.

Di mata penggemarnya, Paris adalah sosok yang ceria, tak pernah sedih, dan selalu menebar senyum. Tak jarang, orang-orang menilai Paris adalah gadis lugu—kalau tidak ingin mengatakan bodoh. Cukup beralasan sebenarnya. Sebab, apa yang ia tampilkan di serial televisi bertajuk The Simple Life, memang begitu adanya. Paris yang sesungguhnya adalah gadis yang cerdas. Itu diakui oleh keluarga dan teman-teman sekolahnya. Hanya saja, publik sudah telanjur mengindentikkan Paris dengan pirang, seksi, dan lugu.

Itulah persona. Sesuatu yang ingin ditampilkan ke hadapan publik, apa pun itu alasannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persona berarti topeng, wajah, ciri khas seseorang, identik dengan pribadinya.

Beberapa individu menampilkan persona sesuai dengan apa yang mereka punya. Mereka tidak keberatan orang lain melihat kekurangan atau kelebihan yang menempel pada pribadi mereka. Misalnya, tertawa lepas bahkan oleh guyonan yang tipis, atau bersikap dingin di tengah-tengah pertemuan kasual. Itu lumrah, itu wajar. Wajar pula jika seseorang lebih memilih diam dan tersenyum seadanya ketika ada yang melempar lawakan superlucu. Atau, berlagak jual mahal kepada orang yang baru dikenalnya. Semuanya lumrah.

Menjadi tidak lumrah jika persona yang ditampilkan mengambil alih seluruh sudut kehidupannya, menutupi apa yang merupakan jati diri sebenarnya. Seseorang yang aslinya humoris, bisa saja kebablasan bersikap dingin hanya karena terlalu sering memakai personanya. Atau, seseorang yang memiliki banyak persoalan dalam hidupnya terpaksa harus bersikap luar biasa ramah dan supel hanya karena itulah pekerjaannya: menghibur orang lain. Maka, kita mulai sering mendengar berita sedih tentang sosok pesohor di dunia hiburan yang mengakhiri hidupnya. Tentunya, bukan akhir hidup seperti itu yang ingin kita dengar—atau kita alami.

Rika Rahmawati, seorang psikolog yang merupakan alumni SMP Negeri 4 Cirebon, berpendapat, “Persona dalam psikologi bermakna topeng. Istilah persona ini merupakan kata dasar yang digunakan dalam istilah personality (kepribadian). Menurut Carl Gustav Jung, seorang tokoh kepribadian beraliran psikoanalisis, persona dimiliki oleh setiap manusia untuk bertahan hidup, adaptif, dan memenuhi tuntutan lingkungan sekitarnya.”

Rika menambahkan, “Persona yang cukup, tidak membuat jarak antara diri nyata dengan diri ideal, akan menjadi sesuatu yang baik. Namun, jika persona yang digunakan berlebihan, sehingga membuat kondisi diri real dan kondisi ideal berjarak terlalu jauh (jomplang), maka akan membuat kepribadian menjadi tidak sehat.”

Pada akhirnya, kita sendiri yang tahu bagaimana harus bertindak—kapan harus menampilkan persona, kapan harus berlaku dengan diri nyata. Meskipun tidak merugikan orang lain, persona yang terlau timpang dengan diri nyata, akan merugikan diri sendiri. Dan, bukannya tidak mungkin, di masa depan, hal itu akan membuat orang lain tidak lagi percaya pada kita.

Stay safe, stay healthy, stay happy.

Sekar Mayang

Editor Penerbit Jentera Pustaka

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Opini

To Top