Connect with us

Realitas Kehidupan di Antara Wabah Covid-19

Opini

Realitas Kehidupan di Antara Wabah Covid-19

Entah kapan dan di mana pastinya wabah Covid-19 ini dimulai dan berasal. Penyebabnya pun tidak jelas kenapa, ada yang menganggap sebuah kecelakaan di laboratorium dan tidak sedikit juga yang menyimpulkan bahwa itu hanya konspirasi. Negara di seluruh dunia dibuat kewalahan menghadapi wabah virus ini. Berbagai macam pula cara menghadapinya.

Setiap hari pun kita selalu disuguhi informasi mengenai wabah Covid-19, dari mulai WhatsApp Group dan Media Sosial. Dengan mengutip dari berbagai laman berita online, elektronik dan cetak. Sampai – sampai karena berebut siapa yang lebih dulu mendapat informasi dan mempertahankan pendapat, tak sedikit yang terlibat perdebatan tentang Covid-19. Padahal, kita tidak tau secara persis kebenaran – kebenaran informasi yang disebar tersebut.

Di Indonesia sendiri tak kalah hiruk pikuknya, dari kebijakan pemerintah yang dinilai sebagian kalangan kurang pas sampai perdebatan para pesohor. Sebelum wabah Covid-19 pun sebenarnya sudah marak terjadi perdebatan yang menjadi perselisihan. Beda Pendapat antar sesama mengenai berbagai hal yang terjadi secara nasional sampai daerah.

Menariknya dalam kondisi wabah seperti ini banyak menimbulkan empati berbagai kalangan. Rasa kepedulian muncul baik dari organisasi politik, sosial sampai dengan kemasyarakatan untuk berbagi kepada sesama yang terdampak wabah.

Tentunya banyak sekali dampak yang ditimbulkan dari munculnya wabah Covid-19. Kebijakan diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar yang berakibat pekerja dan pengusaha tidak maksimal dalam mencari pemasukan. Dampaknya tidak sedikit pekerja yang dirumahkan sementara sampai pemutusan hubungan kerja.

Pelaku usaha – usaha baik kecil, menengah dan besar terpaksa mencari cara lain agar operasional rutin tetap terpenuhi. Berbagai cara yang dilakukan dengan menutup sementara usahanya agar dapat mengurangi biaya operasional dan yang lebih parahnya tidak sedikit yang gulung tikar. Serta tak kalah harunya adalah nasib para tenaga kesehatan yang berjibaku menghadapi pasien umum dan pasien terpapar Covid-19. Para tenaga kesehatan harus menjaga jarak dengan keluarga sendiri bahkan sampai rela tidak pulang ke rumah.

Artinya, wabah ini sangat mempengaruhi kehidupan siapapun tidak kenal kaya atau miskin baik dari sisi ekonomi dan psikologis. Masih cukup hangat untuk diingat mengenai bantuan sosial yang digulirkan oleh Pemerintah Pusat, Provinsi sampai dengan Daerah. Bansos yang dianggap menuai berbagai persoalan, dari soal data yang tidak sesuai sehingga dinilai tidak tepat sasaran, belum lagi masih banyak masyarakat yang hidupnya tidak tercukupi hanya dengan bantuan sosial.

Lalu, setelah sekitar 3 bulan wabah ini dirasakan kemudian di akhir Mei 2020 muncul rencana kebijakan oleh Pemerintah. Kebijakan dengan istilah New Normal atau bisa disebut Adaptasi Kebiasan Baru, ya kehidupan yang beradaptasi dengan keberadaan Covid-19. Sementara kita sendiri belum tahu berapa jumlahnya dan kapan hilangnya virus tersebut. Protokol pencegahan diterapkan dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan sering mencuci tangan.

Kemudian setelah Adaptasi Kebiasaan Baru ini dijalankan, bagaimana dengan para pekerja yang sudah diputus hubungan kerjanya? bagaimana dengan para pengusaha yang sudah gulung tikar? bagaimana dengan para pelaku industri hiburan yang target pemasukannya berasal dari banyaknya massa? dan banyak dampak lainnya. Semoga tidak muncul gelombang kedua wabah Covid-19.

Akhirnya, kita dihadapkan kepada realitas kehidupan yang cukup membutuhkan pertimbangan matang untuk memutuskan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Penulis : Agung Membumi, General Manager PT. Radio Swara Cirebon

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Opini

To Top